Gila Rasa


Hampir tiga tahun hingga akhirnya saya memutuskan untuk kembali menulis di blog ini. Hampir tiga tahun saya coba untuk berusaha menahan isi kepala saya berhamburan kembali di dunia digital.

Tak penting-penting amat dan harusnya sih momennya sudah lewat, sudah basi. Ini "cuma" soal pemerintah yang mengeluarkan uang edisi khusus di momen HUT Kemerdekaan RI ke-75 yakni uang dengan pecahan 75.000. Sepeti judul post saya yang pernah saya post beberapa tahun lalu (yang tentang bola) "haters gonna hate", mungkin seperti itulah gambaran setiap tindakan atau kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah saat ini. 

Soal uang edisi khusus yang dikeluarkan ini pun tak luput dari serangan para pembenci yang memang hobby mencari-cari kesalahan. Ada satu postingan opini salah seorang di antaranya yang menurut saya merekap hampir dari seluruh "tuduhan" yang ada, muncul di linimasa akun facebook saya karena dishare oleh teman. Yang dengan ke-pengecut-an saya, tak berani saya komentari pada saat itu.

Setidaknya ada 3 poin besar yang menurut saya adalah tuduhan keliru yang mungkin didasari oleh kebencian dan dengan tujuan hanya karena mencari celah kesalahan dan menarik perhatian untuk terus membenci pembuat kebijakan. Pertama adalah judul tulisannya -> "nge-prank forever". Dari judulnya, saya menganggap bahwa si penulis mungkin merasa kena prank terus menerus, hingga pada kebijakan terakhir tentang pengeluaran uang edisi khusus ini. Entah si penulis yang terlalu gila rasa (ke-ge-er-an), atau memang kurang informasi. Ia berasumsi bahwa pemerintah telah mengumumkan telah mengeluarkan "uang baru", yakni uang dengan pecahan 75.000. Atas dasar asumsi "uang baru", ia menuduh bahwa pemerintah melakukan lelucon kepada masyarakat karena uang tersebut ternyata tidak dapat digunakan sebagai alat tukar. Faktanya, pemerintah dengan tegas menerangkan bahwa uang yang dikeluarkan adalah uang baru sebagai uang "edisi khusus". Sebagaimana pada momen-momen khusus sebelumnya, kebijakan pengeluaran uang edisi khusus adalah hal yang sudah biasa dilakukan pemerintah dalam hal ini Bank Indonesia. 

Uang edisi khusus adalah uang baru yang dikeluarkan pemerintah dalam rangka peringatan momen khusus, dan hingga saat ini, total sudah ada 10 uang edisi khusus yang dikeluarkan dalam 4 kali momen peringatan kemerdekaan, yakni HUT ke-25, HUT ke-45, HUT ke-50, dan tahun ini HUT yang ke-75. 

Yang kedua, tuduhan bahwa pengeluaran uang edisi khusus yang kemudian tidak dapat digunakan sebagai alat tukar, adalah trik yang digunakan pemerintah untuk mengambil uang dari masyarakat. Dengan jumlah 75 juta lembar uang edisi khusus yang dicetak oleh BI, si penulis beranggapan bahwa pemerintah mengambil keuntungan dengan mendapatkan total hingga 5.625.000.000.000 (lima trilyun enam ratus dua puluh lim miliar rupiah) "uang yang dapat dibelanjakan" dari masyarakat. Entah, saya merasa penulis memang terlalu ke-ge-er-an. Ia terlalu menganggap dirinya sebagai masyarakat biasa yang akan "dirampok" oleh pemerintah dengan cara menukarkan uang rupiah yang bisa ia gunakan untuk berbelanja dengan uang koleksi 1 lembar yang baru dikeluarkan pemerintah ini. Padahal tidak ada paksaan oleh pemerintah untuk setiap warga negara untuk melakukan penukaran uang. Toh kalau ia tidak mau menukarkan uangnya ya tidak usah, kan? Ribet amat, sampai harus menuliskan opini yang justru miss-informasi. Lagipula apa salahnya kita menyumbangkan 75.000 kita kepada negara yang kemudian bertukar dengan kesenangan (andai memang memang kita pecinta uang koleksi)? Si penulis terlalu gila rasa sebagai orang yang menjadi korban atas kebijakan yang saya pikir sesuatu yang biasa-biasa saja. 

Ketiga, tuduhan atas gambar dalam salah satu sisi uang yang menampilkan anak berbaju daerah Tiongkok. Yang ini mungkin tidak perlu saya jelaskan panjang lebar, karena di linimasa media sosial dan di stasiun TV telah tersebar klarifikasinya dengan terang benderang. 


Apa yang saya tuliskan dalam opini ini hanya semata-mata jawaban kepada si penulis yang menurut saya terlalu gila rasa, sekaligus pesan untuk semua yang telah atau pernah men-share postingan tersebut untuk selalu melakukan tabayyun, cari tahu kebenaran dulu sebelum menyebarluaskan sebuah informasi apalagi cuma berdasar opini. Coba untuk melihat segala hal jangan cuma dari satu sisi saja. Semoga kita selalu dilindungi dari sifat menyakiti terhadap sesama. Aamiin.

Soal BIRTHDAY yang Anda Persoalkan

Ini bukan protes atas opini pribadi yang terus Bapak suarakan lho, Pak. Jujur ada gemas, ketika “birthday” coba dipersoalkan. Kejadian ketika kita bertemu kembali pada waktu kita dilahirkan menurut aturan penanggalan dalam setahun itu tak sepakat anda katakan “Ulang Tahun”. Pun dalam bahasa Inggris anda tidak setuju dengan kata “birthday”. Alasannya simple, karena anda menganalisanya menurut bahasa. Hanya itu?

Bapak mungkin lupa, kata, atau mungkin frasa atau istilah yang terdiri dari dua kata atau lebih itu, secara terminology selain mempunyai arti menurut bahasa, Ia kadang lebih tepat diartikan menurut istilah. “Ulang Tahun”, sudah menjadi kesepakatan dan sudah dimasukkan dalam KBBI sebagai istilah yang disepakati di Indonesia yang mengacu kepada kejadian ketika kita bertemu kembali pada waktu kita dilahirkan menurut aturan penanggalan dalam setahun, setiap tahun, atau secara simple diartikan sebagai HARI LAHIR. Hanya karena anda tak sepakat bahwa bukan hari yang diulang dalam setahun itu, atau tak ada tahun yang berulang, lantas anda menolak term “ulang tahun” itu? Saya hanya merasa bahwa sebaiknya tidak mengartikan setiap kata atau frasa menurut bahasanya saja. Karena jika iya, anda tentunya akan menolak terlalu banyak istilah yang sudah menjadi kesepakatan umum, misalnya “RUMAH SAKIT, RUMAH TANGGA, atau JAMBU MONYET”, maukah?

Yang bikin saya tambah gemas, informasi yang anda sebar bahwa DULU katanya orang Inggris mengatakan BIRTHDATE bukan BIRTHDAY, hanya karena lidah orang Indonesia terpeleset jadi kedengaran seperti BIRTHDAY. Saya merasa ini adalah berita yang menyesatkan, karena seakan-akan menggiring opini kita bahwa orang-orang Indonesia-lah yang mempengaruhi adanya perubahan bahasa Inggris dari BIRTHDATE ke BIRTHDAY karena dialek atau lidah orang Indonesia. Ini bisa masuk kategori penistaan bahasa lho, pak!

BIRTHDATE justru berarti tanggal lahir atau hari ketika kita pertama kali lahir di dunia, dan tidak akan pernah berulang, kecuali anda bisa lahir berulang-ulang, hiks…

Istilah-istilah yang sudah ada, yang sudah disepakati secara umum, sejak jaman dulu, entah itu dalam bahasa Indonesia, terutama dari bahasa Negara lain, menurut saya tidak perlu kita persoalkan, mereka sudah mempunyai arti menurut istilahnya masing-masing, jangan diartikan kata per kata. Soal “birthday” yang anda persoalkan, jangan seenaknya men-judge negara-negara pengguna bahasa Inggris telah salah menggunakannya, karena itu adalah term yang sudah mereka sepakati. Karena seperti tadi, jika anda bersikeras mengartikan bahasa negara lain berdasarkan kata per kata dalam padanannya ke dalam bahasa Indonesia, anda tentu ikut menyoal bahasa Inggris “COCONUT MILK” yang berarti santan, atau bahasa Malaysia “SAWAN BABI” yang berarti penyakit epilepsi, dan mungkin masih banyak istilah-istilah dari bangsa lain.

Itu saja.

Haters Gonna Hate



La Duodecima, atau gelar kedua belas, berhasil diraih Real Madrid di kompetisi UCL musim ini usai memborbardir tim jawara Italia, Juventus, dengan 4 gol yang hanya berbalas 1 di partai final di Cardiff. Terlalu banyak hal spesial yang terjadi pasca pertandingan tadi, yang tentunya membuat kita para Madridista sangat bangga walau hanya menyaksikan dari layar kaca. 

Liga Perez



La Liga BBVA resmi berganti nama sejak musim 2016-2017 menjadi La Liga Santander setelah berganti sponsor. Namun setelah beberapa jornada berlalu, beberapa cules menyebut musim ke-86 Liga Spanyol tersebut dengan Liga Perez. Alasannya, menurut mereka ada keadaan dimana beberapa pertandingan, terutama yang melibatkan Real Madrid atau beberapa rival beratnya seperti telah disetting sehingga diakhir kompetisi, Real Madrid lah yang akan menjadi pemenangnya. Menurut mereka.

Tentang Baper yang Tertukar


Gua, Goa, dan Gea'


Gua.
/gu.a/ (n.)
Gue, Aku, Saya. Kata yang diserap dari bahasa Mandarin kemudian menjadi kata gaul khas betawi. Kata yang dalam tulisan Mandarin () dibaca “Gue/Gua” berarti “Saya/Aku” menurut bahasa Mandarin Hokkien. Maksud dari bahasa Mandarin Hokkien adalah bahasa Mandarin yang telah disederhanakan. Gua yang cepat sekali tergelitik untuk menulis apapun yang menarik attensi meskipun kadang tidak menarik sama sekali, terutama menulis soal fenomena pengguna media sosial yang lucu-lucu saat ini. Gua ya gini, gini-gini aja…

Fans Layar Kaca dan Jemari Buta



Drama! Sebuah comeback sempurna match Perdelapan Final UCL tercatat sebagai sejarah baru di kompetisi UCL pagi tadi. Tertinggal 4 gol pada Leg pertama, Barca sukses membalikkan keadaan di Leg kedua dan melaju ke Perempat Final UCL usai mengebiri PSG dengan skor 6-1. Di masa lampau, Real Madrid juga sudah pernah melakukannya meskipun hanya di kompetisi kasta kedua Eropa, Piala UEFA, saat tertinggal 5-1 di Leg pertama kandang Gladbach dan menang 4-0 di markas sendiri. Inilah sepakbola. Anda tak akan menonton begitu banyak drama sebanyak anda menontonnya di sebuah pertandingan sepakbola. Riuh gemuruh euforia sebuah drama yang tersaji pagi tadi menguras emosi fans Barca, yang akhirnya keluar dari goa, sebuah kata yang mewakili alasan hilangnya sang fans layar kaca kala timnya juga sempat digasak 4 gol tanpa balas tepat 3 minggu sebelumnya. 

Stay Positive, Stay You!



Saya bukan ingin membahas Politik. Serius ini bukan soal politik. Hanya mencoba sedikit menganalisa kondisi social media saat ini. Saya sedikit terpanggil untuk sedikit meluruskan apa yang mungkin hampir sebahagian orang mengatakannya bengkok melalui pandangan pribadi saya sendiri, perihal data statistik pilkada yang dipublikasikan.

Banyak beredar foto-foto tentang hasil quick count, real count, atau bahkan hanya hasil polling oleh pengguna media social, yang menunjukkan data, statistik, atau prosentase perolehan suara yang kemudian diikuti oleh caption berupa sindiran, nyinyiran, atau bahkan makian terhadap si pelaku pemberi informasi tadi. Alasannya karena data yang disampaikan menurutnya tidak bisa dipercaya karena data statistik yang dipublikasikan tidak menunjukkan angka 100%.